azimsmile46

Just another WordPress.com site

Mazhab Imam Syafi’i dan Imam Hambali

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pertumbuhan dan perkembangan fiqih menunjukkan pada suatu dinamika pemikiran keagamaan yang sangat penting bagi perkembangan keislaman. Hal tersebut merupakan persoalan yang tidak pernah usai di manapun dan kapanpun, terutama dalam masyarakat-masyarakat agama yang sedang mengalami modernisasi. Di lain pihak, evolusi historikal dari perkembangan fiqih secara sungguh-sungguh telah menyediakan frame work bagi pemikiran Islam, atau lebih tepatnya actual working bagi karakterisitik perkembangan Islam itu sendiri.
Kehadiran fiqih ternyata mengiringi pasang-surut perkembangan Islam, dan bahkan secara amat dominan, fiqih — terutama fiqih abad pertengahan — mewarnai dan memberi corak bagi perkembangan Islam dari masa ke masa. Karena itulah, kajian-kajian mendalam tentang masalah kesejahteraan fiqih tidak semata-mata bernilai historis, tetapi dengan sendirinya menawarkan kemungkinan baru bagi perkembangan Islam berikutnya.
Jika kita telusuri sejak saat kehidupan Nabi Muhammad saw, para sejarahwan sering membaginya dalam dua priode yakni periode Mekkah dan periode Madinah. Pada periode pertama risalah kenabian berisi ajaran-ajaran akidah dan akhlaq, sedangkan pada periode kedua risalah kenabian lebih banyak berisi hukum-hukum. Dalam mengambil keputusan masalah amaliyah sehari-hari para sahabat tidak perlu melakukan ijtihad sendiri, karena mereka dapat langsung bertanya kepada Nabi jika mereka mendapati suatu masalah yang belum mereka ketahui. Sampai dengan masa empat khalifah pertama hukum-hukum syariah itu belum dibukukan, dan belum juga diformulasikan sebagai sebuah ilmu yang sistematis. Kemudian pada masa-masa awal periode tabi’in (masa Dinasti Umayyah) muncul aliran-aliran dalam memahami hukum-hukum syariah serta dalam merespon persoalan-persoalan baru yang muncul sebagai akibat semakin luasnya wilayah Islam, yakni ahl al-hadis dan ahl al-ra’y. Aliran pertama, yang berpusat di Hijaz (Mekkah-Madinah), banyak menggunakan hadis dan pendapat-pendapat sahabat, serta memahaminya secara harfiah. Sedangkan aliran kedua, yang berpusat di Irak, banyak menggunakan rasio dalam merespons persoalan baru yang muncul. Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum tersebut merupakan sebuah hasil penelitian (ijtihad), hal ini tidak perlu dipandang sebagai faktor yang melemahkan kedudukan hukum Islam, akan tetapi sebaliknya bisa memberikan kelonggaran kepada orang banyak sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi pada sebuah hadis:

2        اختلاف امتى رحمة (رواه البيهقى فى الرسالة الاشعرية

Yang maksudnya : “Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat” (HR. Baihaqi dalam Risalah Asy’ariyyah).

Sabda tersebut memiliki makna bahwa orang bebas memilih salah satu pendapat dari pendapat yang banyak itu, dan tidak terpaku hanya kepada satu pendapat saja. Bermadhab memiliki arti melaksanakan dan mengamalkan hasil ijtihad para imam-imam mujtahid seperto Maliki, Syafi’i dan lain-lain adalah wajib begi setiap orang islam yang belum mampu melakukan ijtihad, sebab mazhab-mazhab yang mereka bina merupakan hasil ijtihad. Proses ijtihad semata-mata merupakan proses penggalian isi Al-Qur’an dan Hadist untuk mendapatkan suatu hukum yang kongkrit dan positif. Banyak yang menyadari dan beranggapan bahwa mazhab merupakan hasil karya manusia dan fiqih merupakan kumpulan hukum yang dikarang oleh orang alim tanpa menyadari bahwa dasar penyusunan mazhab atau ilmu fikih adalah Al-Qur’an dan Hadist (Tohir, 1983).

Pentingnya pemahaman tentang mazhab mengharuskan untuk mengakaji terkait hal-hal yang berhubungan dengan mazhab tersebut, sehingga kita dapat meyakini dan mengiuti tuntunan yang dianjurkan dalam mazhab tersebut. Atas dasar tersebut maka makalah kali ini sehingga dalam makalah ini akan dibahas tentang Mazhab Syafi’i dan Mazhab dan Mazhab Hambali yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan informasi seputar mazhab tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

            Rumusan masalah yang digunakan dalam makalah ini adalah:

            1. Siapa pendiri Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali?

2. Bagaimana metode dalam penetapan hukum dari masing-masing mazhab tersebut?

3. Apa saja kitab-kitab yang terdapat pada masing-masing mazhab tersebut?

1.3 Tujuan

            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:

            1. Untuk mengetahui pendiri Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali.

2. Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam menetapkan hukum dari masing- masing mazhab tersebut.

3. Untuk mengetahui kitab-kitab yang terdapat pada masing-masing mazhab tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Mazhab

Kata mazhab berasal dari bahasa Arab yaitu isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I‘ânah ath-Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, “tempat pergi”, yaitu jalan (ath-tharîq) (Abdullah, 1995: 197; Nahrawi, 1994:208).

Secara terminologis pengertian mazhab menurut Huzaemah Tahido Yanggo, adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam mujtahid dalam memecahkan masalah, atau mengistinbatkan hukum Islam. Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh (Nahrawi, 1994: 208; Abdullah, 1995: 197). Menurut Muhammad Husain Abdullah (1995:197), istilah mazhab mencakup dua hal: (1) sekumpulan hukum-hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fikih yang menjadi jalan (tharîq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam dari dalil-dalilnya yang rinci .
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dua unsur mazhab ini dengan berkata, “Setiap mazhab dari berbagai mazhab yang ada mempunyai metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) dan pendapat tertentu dalam hukum-hukum syariat.” (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/395).

            Kata mazhab merupakan sighat isim makan dari fi’il madli zahaba. Zahaba artinya pergi, sehingga mazhab memiliki arti  tempat pergi atau jalan. Kata-kata yang semakna ialah  maslak, thariiqah dan sabiil yang kesemuanya berarti jalan atau cara. Pengertian mazhab menurut istilah dalam kalangan umat Islam ialah sejumlah dari fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat seorang alim besar di dalam urusan agama, baik ibadah maupun lainnya. Setiap mazhab punya guru dan tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Berkembangnya suatu mazhab di sebuah wilayah sangat bergantung dari banyak hal, salah satunya dari keberadaan pusat-pusat pengajaran mazhab itu sendiri.

Berdasarkan keberadaannya, mazhab fiqh ada yang masih utuh dan dianut oleh masyarakat tertentu, namun ada pula yang telah punah. Menurut aspek teologis, mazhab fiqh dibagi dalam dua kelompok, yaitu Mazhab Ahlussunnah dan Mazhab Syi’ah. Mazhab yang termasuk dalam mazhab Ahlussunah adalah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i serta Mazhab Hanbali, sedangkan yang termasuk dalam Mazhab Syiah adalah Mazhab Syiah Zaidiyah, Mazhab Syiah serta Mazhab Syiah Imamiyah, selain mazhab yang telah disebutkan juga masih terdapat banyak mazhab yang keberadaannya telah punah diantaranya adalah Mazhab Ath-Thabari dan Mazhab az-Zahir, Mazhab Al-Auza’i dan lain-lain.

2.2 Mazhab Syafi’i

2.2.1 Pendiri Mazhab

Mazhab Syafi’i didirikan oleh Muhammad ibn Idris Al-Syafi’i Al-Quraisy yang seringkali dikenal dengan sebutan Imam Syafi’i. Beliau dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Imam Syafi’i dibesarkan dalam kondisi keluarga yang miskin dan dalam keadaan yatim tetapi beliau tidak merasa rendah diri ataupun malas, sebaliknya beliau giat belajar hadist dari para ulama hadist yang terdapatdi kota Makkah dan pada masa usianya yang masih kecil beliau telah hafal Al-Qur’an.

Guru Imam Syafi’i yang pertama adalam Muslim bin Khalid seorang mufti dari Makkah. Imam Syafi’i adalah seorang yang cerdas otaknya, kuat ingatannya hingga beliau sanggup hafal Al-Qur’an pada usia yang cukup muda yaitu pada usia 9 tahun. Setelah beliau hafal Al-Qur’an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir, kemudian beliau mempelajari hadist dan fiqih. Imam Syafi’i adalah salah seorang murid Imam Malik yang sewaktu  belajar ternyata beliau telah hafal kitab Imam Malik, yaitu kitab Al Muwatho’ yang dianggap sebagai kitab induk dari Mazhab Maliki. Pada mulanya beliau mengikuti jejak Imam Maliki, tetapi setelah memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang luas maka beliau membentuk mazhab tersendiri (Mansur, 1984).

Tahun 198 H, beliau pergi ke Negari Mesir. Beliau mengajar di masjid Amr ibn Ash serta menulis Kitab Al-Umm, Amali Kubra, Kitab Risalah, Ushul Al-Fiqih dan memperkennalkan Qaul Jadid sebagai mazhab baru. Imam syafi’i dikenal sebagai orang yang pertama kali memelopori pertama kali penulisan dalam bidang tersebut. Di Mesir inilah Imam Syafi’i wafat setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak orang. Murid-murid beliau yang terkenal adalah ibn Abdullah ibn Al-Hakam, Abu Ibrahim ibn Ismail ibn Yahya Al-Muzanni, serta Abu Ya’qub Yusub ibn Yahya Al-Buwaiti dan sebagainya.

Madzhab Syafi’i, satu dari sekian banyak madzhab fiqih yang sampai saat ini masih mendapat apresiasi luar biasa dari mayoritas kaum muslimin dunia. Keunggulan utama Madzhab Syafi’i terletak pada sifatnya yang moderat. Di awal pertumbuhannya, pendiri madzhab ini Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (150-204 H), mengakomodasi dua aliran hukum Islam yang berkembang saat itu, yaitu aliran tekstualis (madrasatul hadits) dan aliran rasionalis (madrasatur ra’y). Hasil kolaborasi keduanya dapat dilihat dari produk hukum Imam Syafi’i yang selalu mengacu pada substansi nash (al-Qur’an dan as-Sunnah), dan dalam kasus tertentu dipadukan dengan dalili analogi (qiyas). Sebagai Bapak Ushul Fiqih, Imam Syafi’i mewariskan seperangkat metode istimbath hukum yang berfungsi untuk menganalisa beragam kasus hukum baru yang terjadi di kemudian hari. Dari tangan Imam Syafi’i lahir ribuan ulama yang konsen menafsirkan, menjabarkan, dan mengembangkan pemikiran beliau dalam ribuan halaman karya ilmiah di bidang hukum Islam.

2.2.2 Pengertian dan Ajaran Mazhab

Mazhab Syafi’i artinya adalah pendapat imam Syafi’i tentang masalah suatu hukum yang beliau ambil dari Al-Qur’an dan Hadist berdasarkan analisis dan Ijtihad beliau. Selanjutnya bila seseorang dikatakan bermazhab Syafi’i maka artinya orang tersebut mengikuti jalan fikiran atau pendapat Syafi’i tentang masalah yang beliau ambil dari Al-Qur’an dan Hadist (Tohir, 1983).

Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam, hal tersebut didasarkan pada masa dan tempat beliau mukim. Yang pertam adalah Qaul Qodim, yaitu mazhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Irak, dan yang kedua adalah Qaul Jadid, yakni mazhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir yaitu setelah pindah dari Irak. Keistimewaan Imam Syafi’i dibandingkan deng an Imam yang lainnya adalah beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kiitabnya Ar Risalah serta kitab Al-Umm dalam bidang Fiqh yang menjaid induk dari mazhabnya (Mansur, 1984).

Qaul Qodim merupakan pendapat-pendapat Imam Syafi’i yang dihasilkan dari perpaduan antara mazhab iraqy yang bersifat rasional dan pendapat Ahlu al-Hadist yang bersifat tradisional, tetapi fiqh yang demikian lebih sesuai terhadap ulama-ulama yang datang dari berbagai negara Islam ke Makah pada saat itu, mengingat situasi dan kondisi negara-negara yang sebagian ulamanya datang ke Makah pada waktu itu berbeda-beda satu sama lain. Mereka dapat memilih pendapat yang sesuai dengan kondisi negaranya. Hal tersebut juga menyebabkan pendapat Imam syafi’i mudah diterima dan tersebar ke berbagai negara Islam. Kedatangan Imam Syafi’i kedua kalinya ke Irak hanya beberapa bulan saja tinggal disana dan kemudian pergi ke Mesir, di mesir inilah tercetus Qaul jadid yang didektekannya kepada muridnya di Mesir. Qaul jadid Imam Syafi’i ini dicetuskan setelah bertemu dengan para ulama Mesir dan mempelajari fiqih dan hadist dari mereka serta adat istiadat, situasi dan kondisi masyarakat Mesir pada waktu itu, sehingga Imam Syafi’i merubah sebagian hasil ijtihadnya yang telah difatwakan di Irak (Huzaemah, 1997).

Pokok-pokok fiqih Syafi’i ada lima:

  1. Al-Qur’an dan Al-Sunnah

Imam Syafi’i memandang al-Qur’an dan al-Sunnah berada dalam satu martabat. Beliau menempatkan al-Sunnah sejajar dengan al-Qur’an, karena menurut beliau Sunnah menjelaskan al-Qur’an kecuali hadits ahad tidak sama nilainya dengan al-Qur’an dan hadits mutawatir.

Imam Syafi’i dalam menerima hadits ahad mensyaratkan sebagai berikut :

I.            Perawinya terpercaya

II.            Perawinya berakal

III.            Perawinya dhabith (kuat ingatannya)

IV.            Perawinya benar-benar mendengar sendiri hadits itu dari orang yang menyampaikan kepadanya.

V.            Perawinya tidak menyalahi para ahli ilmu yang meriwayatkan hadits tersebut.

  1. Al-Ijma’

Imam Syafi’i mengatakan, bahwa ijma’ adalah hujjah dan beliau menempatkan ijma’ sesudah al-Qur’an dan al-Sunnah sebelum qiyas.

  1. Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya.
  2. Ikhtilaf sahabat Nabi
  3. Qiyas

Kitab-kitab Imam Syafi’i baik yang ditulisnya sendiri ataupun didektekan kepada muridnya maupun yang dinisbahkan kepadanya antara lain sebagai berikut (Huzaemah, 1997):

  1. Kitab al-Risalah, tentang ushul fiqh.
  2. Kitab al-Umm, sebuah kitab fiqh yang didalamnya dihubungkan pula sejumlah kitabnya.
  3. Kitab al-Musnad, berisi hadist-hadist yang terdapat dalam kitab al-Umm yang dilengkapi dengan sanad-sanadnya.
  4. Al-Imla’
  5. Al-Amaliy.
  6. Harmalah (dinisbahkan pada muridnya yang bernama Harmalah ibn Yahya).
  7. Mukhtashar al-Muzaniy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i).
  8. Mukhtashar al-Buwaithiy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i).
  9. Kitab Ikhtilaf al-Hadist (penjelasan Imam Syafi’i tentang hadist-hadist Nabi SAW).

Daerah-daerah yang yang menganut mazhab Syafi’i adalah Libia, Mesir, Indonesia, Philipina, Malysia, Somalia, Arabia selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Paistan, India, Sunni-Rusia, Yaman, jazirah Indo China.

2.3 Mazhab Hambali

2.3.1 Pendiri Mazhab

            Pendiri mazhab Hanbali adalah Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzadahili Assyaibani. Beliau dilahirkan di bagdad pada tahun 164 H dan wafat tahun 241 H. Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan. Imam Ahmad ibn Hanbal adalah Imam keempat dari fuqoha’ Islam. Ia adalah seorang yyeng memiliki sifat-sifat luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ibnu hanbal terkenal wara’, zuhud, amanah dan sangat kuat berpegang kepada yang hak serta ia hafal al-Qur’an dan mempelajari bahasa.

Awal mulanya Imam Ahmad Ibnu Hanbal belajar ilmu fiqh pada Abu Yusuf sallah seorang murid Abu Hanifah, kemudian beliau beralih untuk belajar hadist. Karena tidak henti-hentinya dalam belajar hadist, sehingga ia banyak bertemu dengan para Syaikh  Ahl al-Hadist. Ia menulis hadist dari guru-gurunya dalam sebuah buku sehingga ia terkenal sebagai seorang imam al-Sunnah pada masanya. Imam Ahmad bin Hanbal juga belajar fiqh dari dari Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i belajar hadist dari Imam ibn Hanbal. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah seorang murid Imam Syafi’i yang paling setia, sehingga ia tidak pernah berpisah dengan gurunya emenapun kecuali setelah Imam Syafi’i pindah ke Mesir (Huzaemah, 1997).

Pada mulanya Imam Ahmad mengikuti mazhab gurunya, yaitu Imam Syafi’i. Tetapi setelah beliau merasa mampu berijtihad sendiri maka beliau melepaskan dirinya dari ikatan mazhab gurunya tersebut dan selanjutnya berijtihad dan membentuk mazhab sendiri. Sebagai induk bagi mazhabnya beliau menulis kitab Al-Musnad (Mansur, 1984).

Imam Ahmad banyak mempelajari dan meriwayatkan hadist dan beliau tidak mengambil hadistkecuali hadist-hadist yang sudah jelas sahihnya. Pada masa pemerintahan Al Mu’tashim, khalifah abbasiyah, beliau sempat dipenjara karena sependapat dengan opini yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan dibebaskan pada masa Khalifah Al-Mutawakkil. Imam Ahmad wafat pada usia 77 tahun pada masa pemerintahan Khalifah Al-Wathiq. Sepeninggal beliau, mazhab Hanbali berkembang luas dan salah satu mazhab yang memiliki banyak penganut (Jalaludin, 2002).

2.2.2 Pengertian dan Ajaran Mazhab Hambali

            Mazhab Hanbali merupakan mazhab yang mengikuti Imam Ahmad Ibn Hanbal, ia lebih menitikberatkan kepada hadist dalam berijtihad dan tidak menggunakan ra’yu dalam berijtihad kecuali dalam keadaan darurat, yaitu ketika tidak ditemukan hadist, walaupun hadist dhaif yang terlalu dhaif, yakni hadist dhoif yang tidak diriwayatkan oleh pembohong (Huzaemah, 1987).

Dasar-dasar hukum yang dijadikan sumber dalam mengistimbatkan hukm adalah (Mansur, 1984):

  1. Nash Al-Qur’an atau nash hadist, yaitu apabila beliau menemukan nash baik dari Al-Qur’an maupun hadist beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak pula memperhatikan pendapat-pendapat para sahabat.
  2. Fatwa sebagian sahabat, yaitu jika beliau tidak mendapatkan nash maka beliau berpegang teguh pada fatwa sahaby jika fatwa tersebut tidak ada yang menantangnya.
  3. Pendapat sebagian sahabat, beliau memandang pendapat sebagian sahabat sebagai dalil hukum. Jika terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah maka beliau mengambil pendapat yang lebih dekat kepada Kitab dan Sunnah.
  4. Hadist mursal atau hadist dhhoif, hal ini dipakai jika hadis tersebut tidak berlawanan dengan suuatu atsar atau pendapat seorang sahabat.
  5. Qiyas, jika beliau tidak memperoleh sesuatu dasar diantarayang tersebut di atas maka dipergunakanlah qiyas.

Kitab-kitab Imam Hambali selain seorang ahli mengajar dan ahli mendidik, ia juga`seorang pengarang. Beliau mempunyai beberapa kitab yang telah disusun dan direncanakannya, yang isinya sangat berharga bagi masyarakat umat yang hidup sesudahnya. Di antara kitab-kitabnya adalah sebagai berikut (Huzaemah, 1997):

  1. Kitab Al-Musnad.
  2. Kitab Tafsir al-Qur’an.
  3. Kitab al-Nasikh wa al-Mansukh.
  4. Kitab al-Muqqodam wa al-Muakhkar fi al-Qur’an.
  5. Kitab Jawabul al-Qur’an
  6. Kitab al-Tarikh
  7. Kitab Manasiku al-Kabir
  8. Kitab Manasiku al-Shagir
  9. Kitab Tha’atu al-Rasul
  10. Kitab al-‘illah
  11. Kitab al-Shalah

Daerah-daerah yang yang menganut mazhab Hambali adalah Libia, Mesir, Indonesia, Saudi , Arabia, Palestina, Syria, Irak, Jazirah Arab.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ada pun kesimpulan dari makalah tentang mazhab Syafi’i dan Hambali sebagai berikut :

Mazhab Syafi’i didirikan oleh Muhammad ibn Idris Al-Syafi’i Al-Quraisy yang seringkali dikenal dengan sebutan Imam Syafi’i, dan untuk mazhab Hanbali merupakan mazhab yang mengikuti Imam Ahmad Ibn Hanbal.

Dari ke dua mazhab memiliki metode yang berbeda sebagai berikut :

  1. Mazhab syafi’i ada lima:
    1. Al-Qur’an dan Al-Sunnah
    2. Al-Ijma’
    3. Pendapat sahabat yang tida ada yang menentangnya.
    4. Ikhtilaf sahabat Nabi
    5. Qiyas
    6. Mazhab Hambali ada lima :
      1. Nash Al-Qur’an atau nash hadist,
      2. Fatwa sebagian sahabat
      3. Pendapat sebagian sahabat
      4. Hadist mursal atau hadist dhhoif.
      5. Qiyas

Dari ke dua mazhab menulis kitab-kitabnya  sebagai berikut :

  1. Mazhab Syafi’i ialah :
    1. Kitab al-Risalah, tentang ushul fiqh.
    2. Kitab al-Umm, sebuah kitab fiqh yang didalamnya dihubungkan pula sejumlah kitabnya.
    3. Kitab al-Musnad, berisi hadist-hadist yang terdapat dalam kitab al-Umm yang dilengkapi dengan sanad-sanadnya.
    4. Al-Imla’
    5. Al-Amaliy.
    6. Harmalah (dinisbahkan pada muridnya yang bernama Harmalah ibn Yahya).
    7. Mukhtashar al-Muzaniy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i).
    8. Mukhtashar al-Buwaithiy (dinisbahkan kepada Imam Syafi’i).
    9. Kitab Ikhtilaf al-Hadist (penjelasan Imam Syafi’i tentang hadist-hadist Nabi SAW).
    10. Mazhab Hambali ialah :
      1. Kitab Al-Musnad.
      2. Kitab Tafsir al-Qur’an.
      3. Kitab al-Nasikh wa al-Mansukh.
      4. Kitab al-Muqqodam wa al-Muakhkar fi al-Qur’an.
      5. Kitab Jawabul al-Qur’an
      6. Kitab al-Tarikh
      7. Kitab Manasiku al-Kabir
      8. Kitab Manasiku al-Shagir
      9. Kitab Tha’atu al-Rasul
      10. Kitab al-‘illah
      11. Kitab al-Shalah

 

 DAFTAR PUSTAKA

Al-Mansur.1984. Keduduan Mazhab Dalam Syari’at Islam. Jakarta: Indonesia

Asy Syak’ah, Mustofa Muhammad.1995. Islam Tidak Bermazhab Cet. 2,Jakarta: Gema Insani Press

Huzaemah. 1997. Pengantar Perbandingan Mazhab. Jakarta: Logos

Jalaludin. 2002. Dahulukan Akhlak diatas Fikih. Bandung. Mutahhari Press

Mustofa Al Maraghi, Abdullah, 2001. Pakar Pakar Fiqih Sepanjang Sejarah, Cet. 1. Yogyakarta : LKPSM

Sirry, Mun’im A. 1996. Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, Cet.2, Surabaya : Risalah Gusti

 

23 Mei 2011 - Posted by | Tak Berkategori

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: