azimsmile46

Just another WordPress.com site

stem cell

  1. A.    Teknologi Stem Cell (Sel Punca, Sel Induk) sebagai Hasil Perkembangan Biologi Modern dan Masalah Etika yang Muncul

Pengobatan penyakit secara konvensional dilakukan dengan pemberian zat-zat kimia yang disebut dengan obat-obatan kimia. Pengobatan dengan bahan kimia ini, di satu sisi kadang menyembuhkan, namun di sisi lain sering pula muncul efek samping yang tidak diinginkan. Sehingga obat kimia sering pula mendapat sebutan madu dan racun. Teknik pengobatan penyakit semacam ini, akan mulai tergeser dengan teknik pengobatan lain yakni penggantian spare part manusia. Dengan demikian, kalau ada seseorang menderita penyakit jantung, bukan diberikan obat-obat kimia, namun diberikan sel-sel baru yang akan menggantikan jantung yang rusak tersebut. Teknologi inilah yang disebut dengan Teknologi Stem Cell (Stem Sel atau Sel Punca). Pengembangan stem sel memberi harapan bagi penyembuhan berbagai penyakit yang belum ada obatnya sampai saat ini.

Stem sel atau sel punca atau sel induk (bahasa Inggris: stem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi (belum terspesialisasi menjadi sel tertentu), mempunyai potensi untuk dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel lain. Stem sel atau sel induk selain mampu berdiferensiasi menjadi berbagai sel matang , juga mampu meregenerasi dirinya sendiri. Kemampuan tersebut memungkinkan stem sel (sel induk) menjadi sistem perbaikan tubuh dengan cara menyediakan sel-sel baru selama organisme bersangkutan hidup, atau dengan prinsip sel-sel yang rusak akibat penyakit dapat diganti dengan sel-sel yang baru (Djati, 2003; Lanza dan Nadia, 2004; Tadjudin, tanpa tahun).

            Berdasarkan sumbernya, sel induk dibagi menjadi stem sel embrionik dan  stem sel dewasa. Stem sel embrionik adalah sel yang diambil dari inner cell mass, suatu kumpulan sel yang terletak di satu sisi blastocyst yang berusia lima hari dan terdiri atas seratus sel. Blastocyst adalah perkembangan lebih lanjut dari zigot (hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma). Sel ini dapat berkembang biak dalam media kultur optimal menjadi berbagai sel, seperti sel jantung, sel kulit, dan saraf (lihat Gambar 3).
Sumber lain adalah stem sel dewasa, yakni sel induk yang terdapat di semua organ tubuh, terutama di dalam sumsum tulang dan berfungsi untuk memperbaiki jaringan tubuh yang mengalami kerusakan. Stem sel dewasa dapat diambil dari fetus (janin), sumsum tulang, dan tali pusat. Sel induk embrionik maupun sel induk dewasa sangat besar potensinya untuk mengobati berbagai penyakit degeneratif, seperti infark jantung, stroke, parkinson, diabetes, berbagai macam kanker terutama kanker darah, dan osteoarthritis (radang sendi).
Gambar 3. Sel Telur Setelah Pembuahan oleh Sperma, Berkembang Menjadi
             Blastocyst (di dalam Blastocyst terdapat Inner Mass Cell yang
                   Merupakan Sel Stem atau Sel Punca), Sel Stem dapat Ditumbuh-
                   kan Menjadi Berbagai Sel/Jaringan Pembentuk Organ Tubuh
Sel stem embrionik lebih mudah dikembangkan menjadi berbagai macam jaringan sel sehingga dapat dipakai untuk transplantasi jaringan yang rusak. Keuntungan lain dari sel induk dari embrio diantaranya ia mudah didapat dari klinik yang menangani masalah kesuburan, dan bersifat pluripoten sehingga dapat berdiferensiasi menjadi segala jenis sel dalam tubuh.
            Sementara sel induk dewasa dapat diambil dari sel pasien sendiri sehingga menghindari terjadinya penolakan oleh si pasien. Kekurangannya, sel induk dewasa ini jumlahnya sedikit, sangat jarang ditemukan pada jaringan dewasa, masa hidupnya tidak selama sel induk dari embrio, dan bersifat multipoten sehingga diferensiasinya (kemampuan untuk membentuk sel-sel lain) tidak seluas apabila sel induk berasal dari embrio.  Secara skematis potensi sel induk dewasa (berasal dari sumsum tulang) disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Bagan Potensi Stem Sel Dewasa untuk Berdifferensiasi
                             Menjadi Berbagai Macam Sel
            Di samping dari sumsum tulang, stem sel atau sel induk dewasa juga dapat diperoleh dari darah tali pusat bayi. Darah di dalam ari-ari dan tali pusat mengandung berjuta-juta sel induk pembentuk darah yang sejenis dengan sel induk yang ditemukan di dalam sumsum tulang (Kusmaryanto, 2005). Hal ini semakin meyakinkan kita bahwa segala ciptaan Allah s.w.t ini tidak ada yang sia-sia, sebagaimana telah dikemukakan  dalam al-Qur’an Surat Ali Imron 191. Ari-ari atau tali pusat yang pada awalnya dianggap sesuatu yang tidak berguna, ternyata memiliki manfaat. Setelah diteliti lebih lanjut, banyak keuntungan yang ditawarkan dibandingkan dengan transplantasi sumsum tulang. Stem sel dewasa dari darah tali pusat memiliki kemampuan proliferasi (memperbanyak diri) yang lebih tinggi daripada dari sumsum tulang. Selain itu, pencangkokan dengan menggunakan sel induk dewasa dari darah tali pusat ini memiliki tingkat kecocokan lebih tinggi bila dibandingkan dari sumsum tulang.

Masalah Etika Teknologi Stem Sel

            Sejauh ini, penggunaan sel stem embrionik masih dibayangi masalah etika (Kusmaryanto, 2005; Tadjudin, tanpa tahun). Permasalahan etika itu muncul karena sumber sel induk adalah berupa embrio. Etika yang dilanggar adalah menyembuhkan dengan cara membunuh (embrio tidak dapat melangsungkan kehidupannya karena diambil inner cell mass-nya). Di sisi lain, sel induk dari embrio ini ini lebih berpotensi berkembang menjadi berbagai jenis sel yang menyusun aneka ragam organ tubuh. Secara ringkas, yang menjadi pokok permasalahan adalah status embrio itu sendiri.
            Ibrahim (2003) mengemukakan embrio baru menjadi manusia sesudah diberi ruh yang berasal dari ruh Allah (Q.S. as-Sajdah: 9):

¢OèO çm1§qy™ y‡xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ¾ÏmÏmr•‘ ( Ÿ@yèy_ur ãNä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noy‰Ï«øùF{$#ur 4 Wx‹Î=s% $¨B šcrãà6ô±n@ ÇÒÈ

9. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Juga al-Qur’an Surat Shaad: 72:

#sŒÎ*sù ¼çmçG÷ƒ§qy™ àM÷‚xÿtRur ÏmŠÏù `ÏB ÓÇrr•‘ (#qãès)sù ¼çms9 tûïωÉf»y™ ÇÐËÈ

72. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya”.

…. Yang ditiupkan kepadanya pada usia kandungan 120 hari (Hadits Riwayat Bukhari Muslim).

Dikemukakan lebih lanjut oleh Ibrahim (2003), sejak berupa sperma, jadi sebelum terjadinya konsepsi (pembuahan) sudah merupakan living material. Akan tetapi karena Nabi s.a.w membolehkan azl (sexual interruptus atau sanggama terputus) yang menyebabkan terjadinya kematian sperma yang tertumpahkan itu, maka berarti boleh mematikan sperma. Sedang jika sperma tersebut telah menyatu dengan ovum yakni telah terjadi konsepsi, sekalipun belum menjadi manusia karena belum diberi ruh, namun membunuhnya sudah terlarang. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa zigot tersebut merupakan cikal bakal manusia yang secara fisik sudah terbentuk dengan dua unsur fisik utamanya, yaitu sperma dan ovum, walaupun belum dapat disebut manusia.

Kusmaryanto (2005) mengatakan hak paling dasar adalah hak untuk hidup. Hidup manusia secara biologis dimulai sejak selesainya proses pembuahan dimana faktor-faktor kehidupan manusia yang berasal dari ayah dan ibu bersatu dan membentuk genom (perangkat gen) yang baru. Ini berarti sejak selesainya proses pembuahan, embrio sudah mempunyai hak untuk hidup. Dengan demikian, penggunaan stem sel atau sel induk dari embrio telah mengundang kontroversi. Di sinilah bioetika berperan untuk memberikan keputusan terkait teknologi stem sel.

            Upaya yang dilakukan menghadapi kontroversi ini antara lain dengan cara memperoleh embrio yang etis, yakni membuat embrio partenogenetik (embrio yang tidak dihasilkan dari pembuahan ovum oleh sperma). Pembentukannya dilakukan dengan penyuntikan suatu protein sperma pada sel telur yang memicu proses fertilisasi dan sel telur mulai membelah. Pembelahan sel telur ini hanya dapat berkembang sampai stadium blastosis dan sel induk embrio kemudian dapat dipanen (Tadjudin, tanpa tahun). Cara lain adalah dengan transfer inti DNA yang sudah diubah sehingga hasil fertilisasi tidak dapat berkembang jadi embrio atau fetus. Ia berhenti pada stadium blastosis. Menurut pendukung gagasan ini, gumpalan sel yang terbentuk tidak dapat disebut embrio karena tidak sempurna, dan dapat diambil stem selnya.
            Kloning embrio manusia untuk memperoleh sel induk juga menimbulkan kontroversi karena berhubungan dengan kloning manusia atau kloning reproduksi yang ditentang semua agama. Dalam proses pemanenan sel induk dari embrio terjadi kerusakan pada embrio yang menyebabkannya mati. Pandangan bahwa embrio mempunyai status moral sama dengan manusia menyebabkan hal ini sulit diterima. Oleh karena itu, pembuatan embrio hanya untuk tujuan penelitian merupakan hal yang tidak dapat diterima banyak pihak.
            Perdebatan tentang status moral embrio berkisar tentang apakah embrio harus diperlakukan sebagai manusia atau sesuatu yang berpotensi sebagai manusia, atau sebagai jaringan hidup. Pandangan yang moderat menganggap suatu embrio berhak mendapat penghormatan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Semakin tua usia embrio, kian tinggi tingkat penghormatan yang diberikan. Pandangan liberal menganggap embrio pada stadium blastosis hanya sebagai gumpalan sel dan belum merupakan manusia sehingga dapat dipakai untuk penelitian. Namun, pandangan konservatif menganggap blastosis sebagai makhluk hidup (Tadjudin, tanpa tahun).

Untuk menghindari kontroversi terkait stem sel dari embrio,  Thomson dan Yamanaka menemukan pembuatan stem sel dari sel-sel kulit, dan dengan teknik yang sama bisa membuat sel telur dan sel sperma dari sel kulit. Sel sperma dan sel telur kemudian dipertemukan, dan terbentuk embrio yang digunakan untuk keperluan riset. Membuat embrio untuk hanya untuk keperluan riset, dan bukan untuk diimplantasikan ke dalam rahim, juga dianggap sebagai pelanggaran etika yang tidak bisa diterima.

Di dalam Islam sendiri, stem sel dari embrio inipun masih menimbulkan kontroversi. Terkait dengan status embrio, ada pula pendapat yang menganggapnya tidak sebagai manusia atau sebagai makhluk bernyawa, manakala ia masih dalam tahap awal (blastosis). Lebih lanjut, embrio-embrio yang kemudian ‘harus’ dihancurkan setelah diambil stem selnya, tidak dipandang sebagai pembunuhan makhluk hidup, karena mereka tidak pernah hidup sebelumnya.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw.) pernah bersabda, “Jika nutfah (gumpalan darah hasil percampuran semen laki-laki dan perempuan) telah lewat 42 malam, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut; dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah), ‘Ya Tuhanku, apakah dia (akan Engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?’ Maka Allah kemudian memberi keputusan…” (HR. Muslim)

Di dalam riwayat lain dikatakan, “(jika nutfah telah lewat) 40 malam.” Pandangan ini diperkuat oleh keputusan yang diberikan oleh Rasulullah (saw.) terkait aborsi janin. Imam Bukhari dan Imam Muslim, keduanya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah (ra.) bahwa, “Rasulullah (saw.) memberi keputusan dalam masalah janin dari seorang perempuan Bani Lihyan yang digugurkan, dengan satu ghurrah, yaitu seorang budak  laki- laki atau perempuan..” Satu ghurrah adalah diyat yang setara dengan 1/10 diyat orang dewasa (jika diyat orang dewasa 100 ekor unta, maka diyat aborsi adalah 10 ekor unta). Ghurrah ini dibayarkan jika sang janin telah menunjukkan organ-organ manusia, seperti jemari tangan dan kaki, dan lain-lain, yang mengindikasikan bahwa sang janin telah berkembang menjadi manusia sempurna, meski ruh-nya baru dimasukkan oleh Allah pada hari ke-120. Oleh karena itu kezaliman terhadap manusia dilarang dan hal ini juga berlaku kepada janin, namun tidak berlaku bagi embrio yang berusia belum genap 40 hari.

Apa yang Harus Dilakukan terkait Teknologi Stem Sel?

Oleh karena stem sel atau sel induk yang berasal dari embrio tetap menimbulkan kontroversi, maka tindakan yang lebih bijaksana adalah penggunaan stem sel dewasa, misalnya dari sumsum tulang atau dari darah tali pusat bayi. Walaupun darah tali pusat adalah najis, namun dibalik itu terdapat manfaat yang sangat besar bagi pengobatan, misalnya pengobatan diabetes tipe I (bawaan), dengan cara transfusi darah tali pusatnya sendiri. Oleh karena itu, dewasa ini telah didirikan Bank Tali Pusat di Singapura. Dahlan Iskan (Direktur Utama PLN) dengan pengalaman ganti hati, telah melakukan penyimpanan darah tali pusat cucunya yang lahir kembar dengan menyimpannya di Singapura. Hal ini untuk jaga-jaga kelak di kemudian hari cucunya terkena penyakit, maka sudah tersedia spare part penggantinya yakni stem sel atau sel induk.

Penggunaan stem sel dewasa tidak berhubungan dengan membunuh embrio, dan dapat disamakan dengan donor organ yang tidak membahayakan jiwa pendonor. Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 29:

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu‘ ÇËÒÈ

29.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Juga hadits yang diriwayatkan oleh Tsabit bin Adh-Dhohaak (ra.) yang mengatakan Rasulullah (saw.) pernah bersabda, “…dan siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu (alat/sarana), maka Allah akan menyiksa orang tersebut dengan alat/sarana tersebut dalam neraka Jahannam.” (HR. Muslim).

Stem sel dapat membantu dunia medis dan kemanusiaan. Namun, jika stem sel tersebut diambil dari jaringan dewasa milik orang yang sudah meninggal, maka hal tersebut tidak diperbolehkan, karena Islam telah memberikan derajat kesucian kepada orang yang telah mati. Diriwayatkan oleh A’isyah ummul mukminin (ra.) bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).

Kesucian orang yang telah meninggal bahkan berlaku hingga ke atas pekuburannya. Rasul pernah bersabda, sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah, “Sungguh, jika seorang dari kalian duduk di atas bara api yang membakar, niscaya itu lebih baik daripada ia duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim dan Ahmad). Dengan ini telah jelas bahwa Islam telah melindungi orang mati sebagaimana orang yang hidup, dan oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi kita untuk melanggar hak-hak orang mati.

Bagaimana bila stem sel berasal dari sisa embrio teknologi bayi tabung (In Vitro Fertilization atau IVF?) Dari perspektif syariat, hal ini diperbolehkan. Proses IVF sebenarnya adalah pembuahan di luar rahim, sehingga tidak otomatis melekat dan mencari penghidupan dari nutrisi pemberian ibu. Proses ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan stem sel-stem sel. Di bagian atas telah dikemukakan bahwa terkait dengan status embrio, Islam tidak menganggapnya sebagai manusia atau sebagai makhluk bernyawa, manakala ia masih dalam tahap awal (blastosis). Namun ternyata terdapat pula perbedaan pendapat terkait dengan status awal embrio ini. Banyak pihak yang menganggap bahwa sejak awal terjadinya fertilisasi (pembuahan sel sperma terhadap sel telur) itulah sudah dimulai kehidupan. Biologipun menyetujui pandangan ini. Dengan demikian, pengambilan stem sel dari embrio dianggap membunuh embrio. Maka dianggap tidak etis apabila menolong orang lain dengan cara membunuh. Oleh karena itu, untuk menghindari kontroversi ini, kemudian digunakan cara menggunakan embrio sisa-sisa dari program bayi tabung. Hal ini juga dilandasi pemikiran, kalau sisa-sisa embrio tersebut tidak digunakan, maka akan mubadzir. Lebih baik digunakan untuk produksi stem sel.

  1. B.     Kesimpulan

Stem sel merupakan harapan besar untuk terapi di masa depan. Berbagai penyakit degeneratif dan kondisi yang membutuhkan cangkok organ tubuh, Insya Allah akan dapat diatasi dengan stem sel. Termasuk pula tingginya anak-anak penderita autis pada saat ini dan berbagai penyakit syaraf, stem sel memberikan harapan yang besar. Terkait penggunaan stem sel dari embrio, apabila masih dapat digantikan oleh stem sel dewasa (sumsum tulang dan darah tali pusat), kenapa harus menggunakan stem sel embrio yang menimbulkan kontroversi? Melalui penggunaan prinsip bioetika Islam, penggunaan kedua macam sumber stem sel dapat menjadi bahan kajian. Bukankah kita memang diperintahkan untuk selalu mengkaji atau memikirkan ciptaanNya sebagaimana dalam al-Qur’an Surat Al-Ghaasyiyah 17:

Ÿxsùr& tbrãÝàYtƒ ’n<Î) È@Î/M}$# y#ø‹Ÿ2 ôMs)Î=äz ÇÊÐÈ

17. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan,

Bioetika memberikan perhatian yang besar kepada moralitas penerapan ilmu pengetahuan (biologi) dan teknologinya. Terkait hal ini, sabda Nabi Muhammad s.a.w., “Allah s.w.t akan mengoptimalkan siksa-Nya di hari kiamat kepada orang-orang berilmu yang ilmunya tidak memberi manfaat”,  dapat digunakan sebagai rujukan pentingnya moralitas ilmiah bagi penyandang ilmu (Fajar, 2005). Meskipun Al-Qur’an dan hadits Nabi s.a.w. berulangkali menyuruh ummat manusia mencari ilmu, namun kunci keselamatan manusia di dunia dan akhirat pada akhirnya tidaklah ditentukan oleh ilmu itu sendiri, tetapi oleh moralitas dan akhlaqnya.

  Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa manusia semakin lama keinginannya tidak semakin sedikit tetapi semakin berkembang. Di sisi lain teknologi memungkinkan manusia melakukan apa saja. Muncul pertanyaan, apakah sesuatu yang dapat dilakukan, juga selalu patut untuk dilakukan? Di sinilah bioetika diperlukan.

Daftar Pustaka:

Djati, M.S. 2003. Diskursus Teknologi Embryonic Stem Cells dan Kloning

dari Dimensi Bioetika dan Relegiositas (Kajian Filosofis dari Pengalaman Empirik). Jurnal Universitas Paramadina, 3(1): 102-123.

Kusmaryanto, C.B. 2005. Stem Sel Sel Abadi dengan Seribu Janji Terapi. Jakarta:

Grasindo.

Lanza, R. & Rosenthal, N. 2004. The Stem Cell Challenge. Scientific American.

290 (6): 61-67.

Mustofa, A. 2009. Heboh Spare Part Manusia. Surabaya: P A D M A Press.

Tadjudin, M.K. Tanpa Tahun. Aspek Bioetika Penelitian Stem Cell   (http://www.kalbe.co.id diakses 20 Agustus 2007).

5 Januari 2012 - Posted by | Tak Berkategori

2 Komentar »

  1. Salam,
    Saya tertarik membaca ruangan saudara berkenaan stem sel dewasa. Sukacita saya ingin berkongsi pengetahuan mengenai satu-satunya peningkat stem sel dipaten yang terbukti secara saintifik dan yang pertama di dunia. Ianya organik dan paling penting, ianya halal. Laman web saya ialah http://www.hive.stemtechbiz.com jika saudara ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pengetahuan ini. Terima kasih.

    Salam,
    Izlene&hazmi dari Malaysia

    Komentar oleh izlene | 17 Juni 2012 | Balas

    • salam kanal jg dan terimakasih atas kunjungannya diblok saya

      Komentar oleh azimsmile46 | 2 Oktober 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: